Kota dan kemewahannya adalah sarang kelaknatan. Pergi ke kota berarti kita memasukkan diri kita kancah yang laknat. Tidak banyak orang yang bisa tangguh mempertahankan imannya.
Orang-orang yang merantau itu pada masa permulaannya yang kadang-kadang panjang itu tenggelam seperti batu jatuh ke lubuk di rantau orang.
Kalau Tuhan punya mau, memang tak seorang pun yang kuasa menghalanginya. Itu adalah takdir-Nya. Tapi, ada dua macam takdir. Takdir dan takdir yang diiringi dengan ikhtiar.
Meminta kepada Tuhan sudah sepatutnya. Memang kepada Tuhan-lah kita meminta. Akan tetapi, meminta yang bukan-bukan, Tuhan akan marah pula.
Tuhan telah mengatur alam ini dengan aturannya. Ada musim hujan, ada musim kemaraunya. Kalau kita minta hujan di musim kemarau, itu artinya kita minta supaya Tuhan mengubah aturannya.
Tidak selamanya orang dapat menepati janjinya. Tapi, tidak menepati janji dengan sengaja, itulah mungkir. Orang yang mungkir, munafik.
Telah ditakdirkan rupanya bahwa mulut manusia bukan semata untuk makan saja, juga untuk bicara. Untuk makan ada hingganya, yakni sampai kenyang. Tapi untuk bicara manusia takkan puas-puasnya.