Ia merasa jiwanya dipindah ke raga lain yang lama tak terurus, kadang ia juga merasa dilempar ke bumi baru.
Peristiwa itu sudah menjadi sebuah kenangan indah, dan kenangan indah yang dihidupkan kembali akan menumbuhkan seribu cara pikir yang sehat.
Perempuan itu tak menjawab. Keduanya bersitatap. Mencari sisa-sisa kenangan melalui wajah masing-masing.
Lengannya berayun pelan, seiring jemarinya tiru rekah kembang, meliut-liut bagai jemari perupa menatah pinggang patung.
Hanya ia hilang ingatan. Ia berjalan dari satu kota ke kota lain, menyusur sunyi dan keramaian dengan tubuh dan pakaian tak terurus.
Sedikit-sedikit ia ingat perihal kata hatinya bahwa hidup manusia adalah jagung pipilan dalam gilingan revolusi waktu, hingga semua pasti berubah, bagai biji jagung menghalus lalu menjadi nasi.
Hanya burung-burung kecil berkejaran, menukik dan bertengger di ranting kemboja sembari menyisir bulu-bulu halusnya yang dijilat warna senja.
Jari-jemarinya lentik berpencar bagai rekahan bunga, berayun, ikuti lengannya yang bergerak halus dan pelan.
Suaranya terpantul merdu menunggang angin, dilengkapi ritme suara lesapan kembang kemboja yang tanggal bertapak ke tanah.