Anak-anak, sih, siap jadi apa saja. Jadi presiden, jadi pilot, jadi dokter. Orangtua mereka saja yang belum siap.
Rentang waktu tak selalu menentukan hadirnya rindu. Pun begitu dengan jarak di mana rindu tak selamanya bergantung pada jauhnya hati terpaut.
Lalu kini secara diam-diam dan hening, mereka terus bergerak dan membangun tempat-tempat lain dengan hati-hati dan tersembunyi.
Belajar tak hanya tentang apa yang bisa kamu rasa, bisa kamu lakukan, tapi juga apa yang bisa kamu jaga.
Jadi dokter, membantu banyak orang. Ya, memang klise, sih. Tapi, bukankah memang begitu tugas dokter?
Hati yang mencinta atas nama-Nya akan selalu diliputi kerinduan. Dengan hati yang mencinta melalui nama-Nya, kerinduan takkan menyiksa.
Dan jika rindu itu menyejukkan, lalu mengapa rindu itu menjelma sekejam bilah pedang yang lambat laun mengujam hatiku.