Sesaat kala sampan belum sampai kita labuh ke handil kita artikan setiap deru anak-anak angin perkampungan ini
Sebab ada beberapa larik puisiku yang terus mengepakkan sesayapnya untuk mendoakan setiap pagi, saat sekawanan puisi itu bersua dengan udara bumi yang berhembus dari timur maka, di situlah aku kembali ada
Keberimanannya terhadap puisi kerap mengekal pada hening dan sunyi yang dianut oleh gemerisik kaum terumbu.
Dasar laut sepaling samudera tengah semedi untuk sedemikian sabda, demi meredam dengan tabah segala keributan di atas dunia berkabut fana. Ia tiada ingin bersegera untuk menumpahkan kekesalannya dengan memuntahkan berkubik- kubik air bah dari tenggorokanya yang mulai terasa bara.
Harus berapa kali kukatakan? benarkan letak kopiahmu, apa tak sadar sudah sembilan puluh dera- jat termiring kiri?
Ya, walau tubuh ini sudah tak bergerak pasrah dilayapi gelap paru-paru yang hilang fungsi dan jantung yang enggan lagi memompa tidak mengapa, tidak perlu khawatir.
Meluapkan segala ingatan sesuai kesepakatan perjanjian yang per- nah diikrarkan dulu sebelum dijamakkan dengan sebuah ruangan khusus asrama amtsilati para santri sering menyebutnya?
Pagi menghidang sarapan nasi lembah tanjung berlauk tulang paus bakar dengan sambal akar selada. Siang mengganjal perut demi harum daging karapu. Malam barulah batang ranting kayu disusun-tumpuk untuk seremoni beriring ombak laut dan aroma garam.
Tersandar lelah berpencar ke pojokpojok sudut rumah Tuhan saling bertatap hadapan; tak bercakap, menggerutu, bergurau sia, apalagi bercerita ria dengan ceritacerita konyol murahan kami riuh menyetorkan hapalan, kawan!