Imam Budiman

Imam Budiman

39 Quotes

kaum gardu datang menyesaki tubuhnya ibu-ibu menata gorengan berdebu, dijualnya

Kita sepakat menabur di makam istirahnya, menjadi bagian sekelompok arakan pelayat.

Sesaat kala sampan belum sampai kita labuh ke handil kita artikan setiap deru anak-anak angin perkampungan ini

Sebab ada beberapa larik puisiku yang terus mengepakkan sesayapnya untuk mendoakan setiap pagi, saat sekawanan puisi itu bersua dengan udara bumi yang berhembus dari timur maka, di situlah aku kembali ada

Keberimanannya terhadap puisi kerap mengekal pada hening dan sunyi yang dianut oleh gemerisik kaum terumbu.

Dasar laut sepaling samudera tengah semedi untuk sedemikian sabda, demi meredam dengan tabah segala keributan di atas dunia berkabut fana. Ia tiada ingin bersegera untuk menumpahkan kekesalannya dengan memuntahkan berkubik- kubik air bah dari tenggorokanya yang mulai terasa bara.

Harus berapa kali kukatakan? benarkan letak kopiahmu, apa tak sadar sudah sembilan puluh dera- jat termiring kiri?

Ya, walau tubuh ini sudah tak bergerak pasrah dilayapi gelap paru-paru yang hilang fungsi dan jantung yang enggan lagi memompa tidak mengapa, tidak perlu khawatir.

Bagaimana kabar ketulusan di balik purba rahimnya?

Ibu lebih setia merentang jarak di antara lembah dua spasi.

Meluapkan segala ingatan sesuai kesepakatan perjanjian yang per- nah diikrarkan dulu sebelum dijamakkan dengan sebuah ruangan khusus asrama amtsilati para santri sering menyebutnya?

Rumah cengkrama lelambai searah terumbu karang berusia legende tajak pematang.

Pagi menghidang sarapan nasi lembah tanjung berlauk tulang paus bakar dengan sambal akar selada. Siang mengganjal perut demi harum daging karapu. Malam barulah batang ranting kayu disusun-tumpuk untuk seremoni beriring ombak laut dan aroma garam.

Wajah kota gerah pucat serupa mayat.

Laut kita memiliki kedalaman maha menukik.

Mati dan bermakam di sepanjang halu garis pantai.

Tersandar lelah berpencar ke pojokpojok sudut rumah Tuhan saling bertatap hadapan; tak bercakap, menggerutu, bergurau sia, apalagi bercerita ria dengan ceritacerita konyol murahan kami riuh menyetorkan hapalan, kawan!

Dan setiba remaja, digiring oleh para tetua untuk ikut membelah badik ombak. Serta diajarkanlah kepada mereka cara menombak paus seukuran bangsalan, melumpuhkan hingga ke tepi dengan lancip mata besi, tidak pengecut selaksa nelayan serakah dengan busuk serbuk mesiu.

Anak-anak bermain kencing abu, dibungkusnya.

maka, lepaskan segera jerat kantukmu! kakak pengajar datang kakak pengajar datang sebelum beliau mengajari kita pada bab ke lima sedangkan kau meno- pang kantukmu dengan berdiri di tempat

1 of 2
1 2